Okto Malik

Melihat masalah dalam kacamata yang berbeda, dengan dukungan data dan fakta. Spy bisa memperkaya wawasan diri, serta pembaca

author

Distorsi Sejarah Islam Amerika

Leave a Comment
Sejarah resmi selama ini mengatakan bahwa Christopher Columbus-lah yang menemukan daratan luas yang kemudian disebut Amerika. Hal ini ternyata tidak benar. Karena 70 tahun sebelum Columbus menjejakkan kaki di amerika, daratan yang disangkanya India, Laksamana Muslim dari China bernama Ceng Ho (Zheng He) telah mendarat di Amerika. Bahkan berabad sebelum Ceng Ho, pelaut-pelaut Muslim dari Spanyol dan Afrika Barat telah membuat kampung-kampung di Amerika dan berasimilasi secara damai dengan penduduk lokal di sana. Penemu Amerika bukanlah Columbus. Penemu Amerika adalah Umat Islam. Mereka menikah dengan penduduk lokal, orang-orang Indian, sehingga menjadi bagian dari local-genius Amerika.
Ada sejumlah literatur yang berangkat dari fakta-fakta empirik bahwa umat Islam sudah hidup di Amerika beberapa abad sebelum Colombus datang. Salah satunya yang paling popular adalah essay Dr. Youssef Mroueh, dari Preparatory Commitee for International Festivals to celebrate the millennium of the Muslims arrival to the Americas, tahun 1996, yang berjudul “Precolumbian Muslims in America”.
Dalam essaynya, Doktor Mroueh menulis, “Sejumlah fakta menunjukkan bahwa Muslimin dari Spanyol dan Afrika Barat tiba di Amerika sekurang-kurangnya lima abad sebelum Columbus. Pada pertengahan abad ke-10, pada waktu pemerintahan Khalifah Umayyah, yaitu Abdurrahman III (929 – 961M), kaum Muslimin yang berasal dari Afrika berlayar ke Barat dari pelabuhan Delbra (Palos) di Spanyol, menembus “samudra yang gelap dan berkabut”. Setelah menghilang beberapa lama, mereka kembali dengan sejumlah harta dari negeri yang “tak dikenal dan aneh”. Ada kaum Muslimin yang tinggal bermukim di negeri baru itu, dan mereka inilah kaum imigram Muslimin gelombang pertama di Amerika.”
Granada, benteng pertahanan terakhir ummat Islam di Eropa jatuh pada tahun 1492. Pada pertengahan abad ke-16 terjadilah pemaksaan besar-besaran secara kejam terhadap orang-orang Yahudi dan Muslimin untuk menganut agama Katholik, yang terkenal dalam sejarah sebagai Spanish Inquisition. Pada masa itu keadaan orang-orang Yahudi dan orang-orang Islam sangat menyedihkan, karena penganiayaan dari pihak Gereja Katolik Roma yang dilaksanakan oleh inkuisisi tersebut. Ada tiga macam sikap orang-orang Yahudi dan orang-orang Islam dalam menghadapi inkusisi itu:
Pertama, yang tidak mau beralih agama. Akibatnya mereka disiksa kemudian dieksekusi dengan dibakar atau dipancangkan di kayu salib.
Kedua, beralih agama menjadi Katholik Roma. Mereka itu diawasi pula apakah memang berganti agama secara serius atau tidak. Kelompok orang Islam yang beralih agama itu disebut kelompok Morisko, sedangkan yang dari agama Yahudi disebut kelompok Marrano.
Ketiga, melarikan diri atau hijrah menyeberang Laut Atlantik yang dahulunya dinamakan Samudra yang gelap dan berkabut. Inilah kelompok imigran gelombang kedua di negeri baru itu.
Penganiayaan itu mencapai puncaknya semasa Paus Sixtus V (1585-1590). Sekurang-kurangnya ada dua dokumen yang menyangkut inkusisi ini. Yang pertama, Raja Spanyol Carlos V mengeluarkan dekrit pada tahun 1539 melarang penduduk bermigrasi ke Amerika Latin bagi keturunan Muslimin yang dihukum bakar dan dieksekusi di kayu salib itu. Yang kedua dekrit itu diratifikasi pada 1543, dan disertai perintah pengusiran Muslimin keluar dari jajahan Spanyol di seberang laut Atlantik. Ini adalah bukti historis adanya imigran Muslimin gelombang kedua sebelum tahun 1543 (dekrit kedua). Ada banyak literatur yang membuktikan adanya kehadiran Muslimin gelombang pertama ke Amerika jauh sebelum zaman Columbus. Bukti-bukti itu antara lain:
Di sekujur benua Amerika kita akan bisa mendapatkan jejak-jejak umat Islam gelombang pertama dan kedua, jauh sebelum kedatangan Columbus. Lihat peta Amerika hari ini buatan Rand McNally dan cermati nama-nama tempat yang ada di Amerika. Di tengah kota Los Angeles terdapat nama kawasan Alhambra, juga nama-nama teluk El Morro dan Alamitos, serta nama-nama tempat seperti Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra.
Di bagian tengah Amerika, dari selatan hingga Illinois terdapat nama-nama kota Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. Di negara bagian Washington misalnya, terdapat kota Salem. Lalu di Karibia (ini jelas kata Arab) dan Amerika Tengah misalnya ada nama Jamaika, Pulau Cuba (berasal dari kata Quba?) dengan ibukotanya La Habana (Havana), serta pulau-pulau Grenada, Barbados, Bahama, dan Nassau. Di Amerika Selatan terdapat nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Nama-nama pegunungan Appalachian (Apalache) di pantai timur dan pegunungan Absarooka di pantai barat. Kota besar di Ohio pada muara sungai Wabash yang panjang dan meliuk-liuk bernama Toledo, satu nama universitas Islam ketika Islam masih berjaya di Andalusia, Spanyol.
Menurut Dr. Youssef Mroueh, sekarang saja terdapat tidak kurang dari 565 nama tempat di Amerika Utara, baik di negara bagian, kota, sungai, gunung, danau, dan desa yang diambil dari nama Islam ataupun nama dengan akar kata bahasa Arab. Sebanyak 484 di Amerika Serikat dan 81 di Canada. Ini merupakan bukti yang tak terbantahkan bahwa Islam telah ada di sana sebelum Columbus mendarat. Dr. A. Zahoor bahkan menegaskan bahwa nama negara bagian seperti Alabama, sebenarnya berasal dari kata Allah-bamya, dan juga nama negara Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah, serta Tennesse dari kata Tanasuh.
Dr.Mroueh juga menuliskan beberapa nama yang dicatatnya malah merupakan nama kota suci kita seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, Medina di Texas yang paling besar dengan penduduk 26,000, Medina di Ontario Canada, kota Mahomet di Illinois, Mona di Utah, dan Arva di Ontario Canada.
Ketika Columbus mendarat di kepulauan Bahama pada 12 Oktober 1492, pulau itu sudah dinamai Guanahani oleh penduduknya. Kata ini berasal dari bahasa Mandika yang merupakan turunan dari bahasa Arab. Dilaporkan oleh Columbus bahwa penduduk asli di sini bersahabat dan suka menolong. Guana, yang hingga hari ini masih banyak dipakai sebagai nama di kawasan Amerika Tengah, Selatan dan Utara, berasal dari kata Ikhwana yang berarti ’saudara’ dalam bahasa Arab. Guanahani berarti tempat keluarga Hani bersaudara. Namun Columbus dengan seenaknya menamakan tempat ini sebagai San Salvador dan merampas kepemilikan pulau itu atas nama kerajaan Spanyol. Columbus dalam catatannya menuliskan bahwa pada 21 Oktober 1492 dia melihat reruntuhan masjid dan menaranya lengkap dengan tulisan ayat-ayat Al Qur’an telah ditemukan selain di Cuba, juga di Mexico, Texas, dan Nevada.
Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berangkat dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286-1307), penguasa keenam dalam dinasti Marinid. Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Mroeh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam. Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300-1384) mencatat berbagai ekpedisi ini dengan cermat.
Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu. Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 – 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.
Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab. Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I (1517). Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara akurat.
Indian dan Umat Islam
Beberapa nama-nama suku Indian dan kepala sukunya juga berasal dari akar kata bahasa Arab, seperti: Anasazi, Apache, Arawak, Cherokee (Shar-kee), Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni. Kepala suku Indian Cherokee yang terkenal, Sequoyah yang nama aslinya Sikwoya, merupakan ketua suku yang sangat terkenal karena beliau menciptakan silabel huruf-huruf (Cherokee Syllabary) bagi orang Indian pada tahun 1821. Namanya diabadikan sebagai nama pohon Redwood yang tertinggi di California, sekarang dapat disaksikan di taman hutan lindung di utara San Francisco.
Berlainan dengan gambaran stereotip tentang suku Indian yang selalu mengenakan bulu-bulu burung warna-warni di kepalanya, seperti yang banyak digambarkan para seniman Barat selama ini, Sequoyah selalu mengenakan sorban. Dia tidak sendirian, masih banyak ketua suku Indian yang mengenakan tutup kepala gaya orang Islam. Mereka adalah Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Bahkan sebagian dari mereka mengenakan penutup kepala yang khas Arab seperti ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.
Orang-orang Indian Amerika juga memegang nilai ketuhanan dengan mempercayai adanya Tuhan yang menguasai seluruh alam semesta ini, dan Tuhan tersebut tidak teraba oleh panca indera. Mereka jugameyakini bahwa tugas utama manusia diciptakan oleh Tuhan adalah untuk memuja dan menyembahnya. Seperti penuturan seorang kepala suku Ohiyesa: “In the life of the Indian, there was only inevitable duty -the duty of prayer- the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. Di dalam Al Qur’an, kita diberitahukan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin adalah semata-mata demi untuk beribadah kepada Allah SWT.
Ahli sejarah seni Jerman, Alexander Von Wuthenau, dalam buku klasiknya “Unexpected Faces in Ancient America” (1975); serta Ivan Van Sertima dengan buku “They Came Before Columbus” (1976) dan juga mengedit buku “African Presence In Early America” di mana intelektual Perancis abad ke-19 Brasseur de Bourboug di situ mengungkapkan keberadaan orang-orang Islam di Amerika tengah, yang juga didukung essei dari P.V.Ramos dalam buku yang sama tentang keberadaan ‘Mohemmedans’ di Karibia (Carib) yang dijumpai Columbus.Beberapa literature lainnya yang bisa ditelusuri tentang hal yang sama antara lain dari ahli arkeologi dan linguis Howard Barraclough (Barry) Fell berjudul “Saga America”(1980); Colin Taylor (editor) “The Native Americans” (1991); dan orientalis Inggris De Lacy O’Leary yang menulis “Arabic Thought and It’s Place In Western History” (1992).
Salah satu buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia karya Gavin Menzies, seorang bekas pelaut yang menerbitkan hasil penelusurannya, menemukan adanya peta empat buah pulau di Karibia yang dibuat pada tahun 1424 dan ditandatangani oleh Zuane Pissigano, kartografer dari Venesia.Peta ini berarti dibuat 68 tahun sebelum Columbus mendarat di Amerika. Dua pulau pada peta ini kemudian diidentifikasi sebagai Puerto Rico dan Guadalupe.
Menzies juga mengemukakan bahwa Laksamana Zheng He (Ceng Ho), seorang Lakasamana Cina Muslim, telah mendarat di Amerika pada tahun 1421, 71 tahun lebih awal ketimbang Columbus. Lima abad sebelumnya, Khaskhas Ibn Saeed Ibn Aswad pun telah menjejakkan kaki di Amerika. Jelas, penemu Amerika sama sekali bukan Colombus, tetapi para pionir pelayaran dunia, yakni pelaut-pelaut Islam yang ulung. (Lw/eramuslimdigest4)
Read More

Amerika Itu Negeri Muslim Yang Hilang (4)

Leave a Comment
Inilah Kisah Hatuey. Dia merupakan Kepala Suku Indian Arawak. Ketika tertangkap oleh tentaranya Colombus, dengan gagah Hatuey tidak mau tunduk pada Columbus. Akibatnya Colombus memerintahkan Hatuey dan pengikutnya diikat di sebuah tonggak kayu mirip salib dan dihukum bakar hidup-hidup.
Ketika Hatuey diikat ke kayu, seorang Pastor Fransiscan mendekatinya dan mendesaknya untuk mengakui Yesus sebagai tuhan, agar jiwanya dapat pergi ke “Sorga” daripada ke neraka. Hatuey menjawab dengan penuh harga diri, bahwa jika sorga itu adalah tempat bagi orang-orang Kristen seperti Colombus dan lainnya, maka dia lebih baik pergi ke neraka.
“Orang-orang Spanyol itu menggantungkan 13 orang secara serentak. Angka 13 ini menyimbolkan Sang Kristus sendiri dengan 12 muridnya… Mereka pun dibakar hidup-hidup,” demikian catatan para saksi mata yang dalam beberapa buku sejarah tentang kedatangan awal Colombus di Amerika.
Ada juga yang menulis, “Orang-orang Spanyol itu memotong tangan salah satu orang, pinggul atau kaki atau yang lain, dan juga memotong beberapa kepala dalam sekali tebas, seperti penjagal yang memotong daging sapi dan domba di pasar. Vasco de Balboa memerintahkan empat puluh orang di antara mereka yang telah koyak berkeping-keping diberikan kepada anjing yang terlihat kelaparan. Bahkan untuk sekadar menjajal sudah tajam atau belum pedang yang baru saja diasah, mereka sering mencobanya dengan menebas tangan atau kaki anak-anak kecil Suku Indian.”
Sejarah dunia sudah mencatat dengan tinta penuh darah atas pembantaian, pengusiran, dan perbudakan yang dilakukan orang-orang kulit putih terhadap suku asli Indian di benua baru yang dinamakan Amerika. Namun tidak banyak yang menulis jika “orang-orang kulit putih” seperti Colombus dan lainnya sesungguhnya merupakan pion Yahudi untuk obsesi besarnya menguasai dunia. Di dalam satu bagian dari buku Knights Templar Knights of Christ (Rizki Ridyasmara), ditulis:
…Setelah ditemukan (Colombus), orang-orang Yahudi melakukan imigrasi besar-besaran ke Amerika Selatan, terutama Brazil. Louis Torres menetap di Kuba dan membuka perkebunan tembakau yang kemudian diekspor ke Eropa dan mancanegara sehingga sekarang ia dikenal sebagai ‘Bapak Tembakau’. Tak lama kemudian terjadi perang antara Brazil dengan Belanda. Peperangan ini membuat kaum Yahudi di Brazil tidak merasa aman dan mereka kemudian pindah ke Nieuw Amsterdam, sebuah koloni Belanda yang terletak di Amerika Utara.
Gubernur Jenderal Pieter Stuyvessant yang berkuasa di Nieuw Amsterdam mengetahui imigrasi orang-orang Yahudi di wilayahnya. Stuyvessant sendiri tidak menyukai kehadiran orang-orang Yahudi. Namun akibat campur tangan pemodal Yahudi internasional, Stuyvessant akhirnya mengalah dan membolehkan mereka tinggal di koloninya. Walau demikian terhadap orang-orang Yahudi itu, Stuyvessant memberlakukan sejumlah persyaratan. Di antaranya, orang-orang Yahudi tidak boleh menjadi ambtenaar (pegawai pemerintah) dan juga dilarang berdagang komoditas tertentu. Hal ini menjadikan saudagar-saudagar itu memutar otak untuk bisa menghasilkan uang.
Saat itu, di kota baru ini juga terdapat banyak imigran Eropa yang miskin, pakaiannya lusuh dan bahkan jarang yang diganti. Akhirnya para saudagar Yahudi ini membuka sebuah usaha baru yang sebelumnya belum di kenal oleh dunia: berdagang pakaian bekas. Dan ini ternyata laku keras.
Zen Maulani mencatat, “Adalah masyarakat Yahudi yang pertama kali menjadikan pakaian bekas sebagai komoditas perdagangan di dunia. Bisnis itu di kemudian hari mereka kembangkan ke industri pakaian murahan, yang kini dikenal dengan jenis pakaian ‘jeans’ dan ‘denim’ yang semula terbuat dari bahan kain layar (terpal) yang murah, kuat, serta tahan lama, yang terutama sekali cocok bagi pekerja di daerah pedalaman Amerika Serikat. Salah satu nama yang kesohor hingga kini adalah Strauss Levi. Orang-orang Yahudi adalah pedagang pertama di dunia yang memperdagangkan apa saja dari barang-barang bekas, mereka adalah kaum pemulung pertama di dunia.”
Nieuw Amsterdam pun menjadi pusat perdagangan pakaian bekas yang dilakukan para saudagar Yahudi. Orang-orang Yahudi menamakan kota tersebut sebagai The New Yerusalem. Tak sampai setengah abad kemudian Inggris merebut koloni itu dan mengganti nama Nieuw Amsterdam dengan New York.
Hingga sekarang, New York menjadi kota dan negara bagian dengan konsentrasi orang Yahudi terbesar di seluruh Amerika Serikat. Bahkan New York mencatat sebagai kota dengan jumlah penduduk terpadat di seluruh Amerika Serikat.
Saat berlangsung Revolusi Amerika saja, jumlah mereka ditaksir sekitar empat ribu jiwa. Setengah abad kemudian jumlahnya membengkak menjadi 3,3 juta jiwa. Orang-orang Yahudi sudah terlibat dalam Perang Kemerdekaan Amerika melawan Inggris. Namun seperti yang sudah-sudah, Tentara Konstinental di bawah pimpinan Jenderal George Washington mendapat bantuan dana perang dari para saudagar Yahudi Amerika, sedangkan Rothschild mengucurkan bantuan kepada pihak Inggris. Dan yang menang perang, lagi-lagi Yahudi.
Ketika negara Amerikat Serikat belum terbentuk, dan bahkan Inggris belum menjadikan Amerika sebagai koloninya, orang-orang Yahudi telah ada di sana dengan jalan membantai penduduk asli Indian. Sama seperti yang dilakukan Zionis-Yahudi yang memenuhi Tanah Palestina dan membunuhi penduduk aslinya, Muslim Palestina.
Christopher Columbus berlayar di bawah Salib Templar atas dana Pemodal Yahudi, Columbus juga beristerikan seorang puteri Templar, dan awaknya banyak yang Yahudi. Tak heran, tidak lama setelah Columbus menjejakkan kakinya di Amerika, orang-orang Yahudi Spanyol dan kemudian disusul dengan Yahudi-Yahudi lainnya melakukan imigrasi memenuhi tanah Amerika, dan mengusir atau membantai penduduk aslinya, suku Indian.
Jika saja sejarah benar-benar sebuah paparan yang jujur tentang masa lampau, maka saat ini kita akan menyebut ekspedisi Columbus sebagai ekspedisi perampok dan pembunuh. Demikian pula para imigran Eropa yang datang dan mendirikan koloni di Amerika. Sejarah tidak pernah mencatat dengan jujur, seberapa banyak orang-orang Indian yang menemui ajal dibunuh oleh orang-orang Eropa yang mendarat di sana. Namun sejarah ternyata bukan paparan jujur tentang masa lampau, tapi kisah para pemenang, yang tentu saja merasa benar sendiri. Hal ini diabad ke-21 diteruskan oleh kelompok Zionis-Israel dan juga kaum Hawkish di Amerika Serikat yang memiliki semboyan “Mighty is the Right” atau Kekuatan adalah Kebenaran. (Tamat/Rizki Ridyasmara)
Read More

Amerika Itu Negeri Muslim Yang Hilang (3)

Leave a Comment

Tradisi bahari yang kental mewarnai keluarga Colombo menjadikan Columbus tumbuh jadi seorang pelaut ulung, walau usianya masih belia. Saat baru 21 tahun (1472), Columbus telah dipercaya memimpin sebuah ekspedisi kapal pribadi ke Tunisia. Dalam periode inilah Cristoforo dekat dengan Rene d’Anjou (Grandmaster Knight Templar Italia), tidak saja dalam kapasitas sebagai anak buah dan majikan, tapi juga dalam artian persahabatan.
Pada 1478 Cristoforo menikahi Felipa Perestrello e Moniz, puteri Bartolomeo Perestrello. Pernikahan ini menguatkan dugaan bahwa keluarga Columbus sesungguhnya punya hubungan dengan Templar, karena sesama anggota Templar sudah biasa saling mempertautkan tali kekeluargaan lewat sarana pernikahan diantaranya. Apalagi keluarga Perestrello termasuk tokoh pelarian Templar di Portugis yang tidak akan mungkin sudi mengawinkan anaknya dengan keluarga di luar Templar.
Apalagi di kemudian hari sang mertua sangat percaya kepada Cristoforo hingga membolehkan peta dan buku hariannya dipinjam dan dipelajari oleh Columbus. Columbus sendiri merupakan anggota dari Ordo Knights of Christ.
Dengan sendirinya, kedekatan dengan Rene menyebabkan Columbus diterima dalam pergaulan tingkat elit, bahkan bisa langsung berhubungan langsung dengan Ratu Isabella I dari Castile, Spanyol, yang kemudian membiayai ekspedisinya mencari “dunia baru”
Kaum Templar dan pewarisnya di mana pun berada selalu bergerak dalam dua dunia: gelap dan terang. Ekspedisi Columbus juga demikian. Misi resmi Columbus yang ditulis sejarah hingga hari ini adalah misi pencarian dunia baru yang dinamakan India yang dipercaya punya banyak kekayaan berupa emas, perak, dan mungkin juga rempah-rempah.
Hanya saja, jalur laut yang dilayari ekspedisi Columbus ternyata tidak mengarah ke India, melainkan sebuah daratan luas yang baru yang di kemudian hari dikenal sebagai benua Amerika.
Ini sungguh-sungguh mengherankan, karena pelaut-pelaut dari Italia, Portugis, dan sekitarnya, yang tergabung dalam kelompok pewaris Templar bernama Knights of Christ, seperti juga Vasco da Gama, merupakan pelaut-pelaut tangguh yang telah turun-temurun, dari generasi ke generasi, hidup dan besar di laut. Apalagi dari merekalah lahir berbagai inovasi peralatan pelayaran seperti halnya kompas dan sebagainya.
Jawaban atas pertanyaan ini ternyata dikemukakan oleh Michael Baigent dan kawan kawan dalam Holy Blood Holy Grail (1982) yang menulis, “Sesungguhnya, Columbus bukanlah orang Eropah pertama yang menjejakkan kaki di Amerika. Pada tahun 1269, Ksatria Templar yang berpusat di Yerusalem diyakini telah melakukan hubungan komersial dengan bangsa Indian sebagai penduduk asli Amerika dengan mengimpor perak dari Meksiko…”
Amat mungkin, perkenalannya pada benua Amerika inilah yang menyebabkan para Templar tersebut telah mengenal tumbuhan lidah buaya dan jagung yang saat itu baru tumbuh di Amerika, yang kemudian dipahatkan di Rosslyn Chapel di abad ke-15 M.
Pada tahun 1446 saat kapel yang berdiri di Edinburgh itu dibuat, kedua tanaman tersebut belum tumbuh di Eropa. Jadi, sebenarnya para Templarlah, orang Eropa yang pertama kali menjejakkan kakinya di Amerika, bukan Columbus. Jadi, ada dua kemungkinan misi ekspedisi Columbus yang  sesungguhnya.
Pertama, Columbus mengetahui bahwa misinya adalah menapak-tilas jalur pelayaran Templar dari Eropa ke Amerika, mencari rute yang pernah dilayari nenek-moyangnya kembali, guna mencari ‘rumah baru’ yang lebih besar dan luas, juga kaya raya, yang masih murni dan belum tersentuh kekuasaan Gereja, bagi para keturunan Templar. Tujuannya agar Templar bisa memiliki kekuasaan yang lebih dari Gereja. Dan jika itu telah terjadi maka tujuan asasi para Templar dalam mencari The Solomon Treasure bisa tetap terlaksana. Sesuatu yang telah berabad-abad mereka pendam setelah terusir dari Yerusalem di abad ke-12 M.
Kedua, bisa jadi Columbus sendiri tidak mengetahui misi rahasia Templar yang menunggangi ekspedisinya. Itulah sebabnya, ketika Columbus mendarat di benua Amerika (saat itu belum dinamakan Amerika), Columbus menyebut benua tersebut sebagai India. Ini bisa saja terjadi mengingat di dalam ekspedisi Columbus, banyak tokoh-tokoh Yahudi yang menyertainya, termasuk bendahara kerajaan yang merayu Isabella agar mau mensponsori ekspedisinya.
Rombongan Columbus sendiri terdiri dari tiga buah kapal: Nina, Pinta, dan Santa Maria. Pada 3 Agustus 1492, ekspedisi ini berangkat dari Palos de la Frontera, Spanyol. Columbus naik di atas kapal Santa Maria dengan 40 lelaki dewasa sebagai awak kapal, kapal Nina dan Pinta diawaki sekitar 20 hingga 30 lelaki. Kapal utama, Santa Maria, memiliki layar-layar utama yang dicat dengan simbol Salib Templar. Nama ‘Santa Maria’ pun mengingatkan kita pada sosok Maria Magdalena, yang oleh kaum Kabbalah (Templar) juga disebut sebagai The Iluminatrix yang berarti Yang Tercerahkan. Ini pula asal kata dari Illuminaty, kelompok cendekiawan Templar.
Dalam ekspedisi ketiga, barulah Columbus ‘menemukan’ benua baru yang beberapa tahun kemudian baru dinamakan Amerika. Tahun 1498 Columbus mendarat di Amerika dan Trinidad. Dua orang sahabat Yahudi Columbus, Luis de Santagel dan Gariel Sanchez diberi hak-hak istimewa di daerah koloninya. Misi Columbus telah selesai. Jalur laut ke Amerika telah ditemukan kembali. Dan seperti biasanya, pihak-pihak Konspirasi menganggap Columbus tidak lagi berguna. Maka Columbus harus dihilangkan atau ‘dibuang’.
Seorang Yahudi sahabat Columbus bernama Bernal melakukan pengkhianatan. Bernal menghasut awak kapal lainnya agar memberontak terhadap kepemimpinan Columbus dan berhasil. Columbus pun melarikan diri, pulang ke Spanyol. Columbus sendiri meninggal pada tahun 1506 dalam keadaan menyedihkan dan miskin. ‘Benua baru’ tersebut yang dianggap Columbus sebagai India, beberapa tahun kemudian diralat oleh pelaut Italia bernama Amerigo Vespucci (1454-1512) yang kemudian diberi nama Amerika.
Inilah daratan besar, luas, dan kaya, yang kemudian dijadikan The Sacred-Great Lodge bagi pewaris Templar, Kaum Kabbalah, untuk mewujudkan cita-citanya: Novus Ordo Seclorum (Tata Dunia Baru di bawah kekuasaannya), lewat jalan Annuits Coeptis (Konspirasi Kita).
Colombus, Penjahat Kemanusiaan
Eramuslim Digest volume 4 pernah menguak sebagian sejarah hitam yang ditoreh Columbus terhadap penduduk asli benua baru yang sebagian besarnya sudah memeluk Islam.
Colombus adalah penjahat kemanusiaan. Puluhan juta suku asli Indian musnah olehnya. Dua peneliti dari Universitas California, Sherburne dan Woodrow mencatat, di tahun 1492 jumlah orang Arawak 8 juta jiwa. Empat tahun kemudian Colombus datang. Di tahun 1508-1518, dari 8 juta tinggal tersisa 100.000 orang Arawak. Bahkan di tahun 1514, orang Arawak dewasa tinggal 22.000.
Peneliti lain, Cook dan Borah menulis angka 27.800 (1514), “Dalam jangka waktu 20 tahun, Columbus telah membantai 90% bangsa Arawak, yang pada awalnya berjumlah 8 juta jadi tinggal 28.000-an orang.”(!)
Selama kurang seabad Columbus di benua baru, sekitar 95 juta penduduk pribumi telah dibunuh secara kejam. Saat Columbus tiba di Amerika, ada 30 juta orang penduduk pribumi. Namun beberapa tahun kemudian jumlahnya menyusut tinggal 2 juta.
Dalam buku berjudul “The conquest of Paradise: Christopher Colombus and the Columbian Legacy” (1991), Kirkpatrick Sale menyatakan, “Ini lebih dari suatu pembantaian biasa, ini satu pembunuhan besar-besaran, yang menghabisi lebih dari 99% penduduk, pemusnahan satu generasi.”
Pemusnahan suku Indian di Amerika ini bukan hanya dilakukan dengan pengejaran dan pembantaian, tapi juga dengan ‘senjata biologi’ bernama virus cacar. Sejumlah selimut bekas pasien cacar yang tentu saja telah terpapar virusnya, dibawa Columbus dan dipakai untuk menyelimuti orang-orang Indian yang sakit. Bukannya sembuh, banyak orang Indian yang mati dan wabah cacar dengan cepat membunuh puluhan ribu orang-orang Indian lainnya. Hal yang sama dilakukan Hernando Cortez tatkala merebut Meksiko yang saat pertama menjejakkan kaki di negeri itu pada Februari 1519, jumlah penduduk aslinya ada sekitar 25 juta jiwa, tetapi pada 1605 jumlah itu tinggal 1 juta jiwa saja.
Sejarah seharusnya mencatat, penggunaan senjata biologis pertama di dunia dilakukan oleh Colombus.
(Bersambung/Rizki Ridyasmara)
Source : http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/amerika-itu-negeri-muslim-yang-hilang-3.htm#.VmwRM9IrJpg
Read More

Amerika Itu Negeri Muslim Yang Hilang (2)

Leave a Comment
Beberapa kepala suku Indian juga selalu mengenakan sorban, di antaranya Kepala Suku Sioux, Chippewa, Yuchi, Iowa, Sauk, Creek, Kansas, Miami, Potawatomi, Fox, Seminole, dan Winnebago. Sampai sekarang, foto-foto yang berasal dari tahun 1835 dan 1870 tersebut masih disimpan dengan rapi di sejumlah museum di Amerika dan juga di arsip nasional.
Columbus sendiri mengetahui bahawa orang-orang Carib (Caribbean) adalah pengikut Nabi Muhammad Saw. Penduduk asli benuan besar itu sudah memeluk Islam jauh sebelumColombus menjejakkan kakinya di sana. Orang-orang Islam dari Pantai Barat Afrika, dan juga armada Cheng Ho, datang ke benua besar tersebut untuk berdagang, bersosialisasi, dan berasimilasi dengan penduduk asli. Beda dengan Colombus yang menginjakkan kaki untuk merampok kekayaan benua besar tersebut.
Para Penjelajah Muslim di Amerika
Catatan yang ada tentang siapa “orang asing” yang pertama kali menjejakkan kakinya di benya besar ini merujuk kepada Khashshah bin Said bin Aswad, yang pada tahun 889 masehi telah mendarat di benua itu. Khashshah merupakan seorang navigator muslim dari Cordoba, Spanyol. Spanyol di masa itu merupakan pusat peradaban Islam di Barat, bagian dari Khilafah Bani Umayah II. Dia menyeberangi lautan Atlantik dan mensyiarkan penduduk asli di benua besar itu hanya terpaut 200-an tahun setelah Rasulullah SAW wafat.
Selain Khashshah, ada banyak pelaut Muslim yang juga mencatatkan perjalananya ke benua besar ini antara lain: Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300-1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369). Mereka semuanya terlebih dahulu tiba di benua besar ketimbang Colombus yang baru tiba pada abad ke-15 Masehi.
Dalam bukunya, “The Meadows of Gold and Quarries of Jewels”, Al-Masudi melaporkan bahawa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888-912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik hingga menemui wilayah yang asing dan disebutnya sebagai Ard-Majhoola. Kemudian beliau kembali dengan membawa pelbagai barangan yang menakjubkan. Selepas penemuan itu, banyak pelayaran menuju daratan di seberang Lautan Atlantik dilakukan. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.
Dr. Youssef  Mroueh juga mencatat, pada masa kekuasaan n Khalifah Abdul Rahman III dari Dinasti Umayyah (929-961 M), ada sejumlah ekspedisi orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol menuju ke barat lautan yang gelap dan berkabut, yakni Lautan Atlantik. Setelah itu mereka kembali dengan selamat di Palos dengan membawa banyak barang bernilai hasil berdagang.
Dalam catatan sejarawan Abu Bakr Ibn Umar, pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009) seorang pelaut dari Granada, Ibn Farrukh, meninggalkan pelabuhan Kadesh pada Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Canary Island).  Ibn Farrukh mengunjungi Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan pelayarannya ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Sepanyol pada Mei 999.
Pelayaran melintasi Lautan Atlantik yang berasal dari Maghribi juga dicatat oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya bertolak dari Tarfayadi Maghribi pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286-1307) raja keenam dalam Dinasti Marinid. Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Caribbean pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan rujukan oleh para saintis Islam.
Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu juga pernah melakukan pelayaran sehingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300-1384) telah memerincikan eksplorasi geografi ini. Timbuktu yang berada di tengah-tengah Afrika kini seolah terlupakan, padahal lokasi ini dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan, dan pusat keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan baik menuju ke Timbuktu ataupun bermula dari Timbuktu.
Sultan yang tercatat akan eksplorasinya hingga ke benua baru waktu itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285-1312), yakni saudara Sultan Mansa Kankan Musa (1312-1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintasi Lautan Atlantik sehingga ke Amerika dan menyusuri sungai Mississippi.
Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi di antara tahun 1309-1312, satu abad sebelum Colombus. Para eksplorasi ini berbahasa Arab. Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika dilukiskan di dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I (1517).
Laksamana Ceng Ho
Laksamana Ceng Ho, seorang pendakwah Islam, tiba di benua besar ini 70 tahun lebih awal dari Colombus. Armada Ceng Ho sangat besar, bahkan jika armada Colombus dan Vasco da Gama jika digabungkan maka mereka semua muat dalam sebagian buritan kapal Ceng Ho.
Mari kita bandingkan, Bartholomeus Diaz, orang pertama yang melintasi ujung selatan Benua Afrika (Tanjung Harapan), hanya menggunakan tiga kapal jenis Caravel yang bermuatan 170 orang.  Christopher Columbus, yang memulai pelayarannya 3 Agustus 1492, juga menggunakan tiga kapal.  Total jumlah awak kapalnya cuma 104 orang. Sedangkan armada Cheng Ho mencapai 357 kapal dengan 27.800 awak.  Dari kesemua kapal, sebanyak 62 di antaranya berukuran raksasa yang disebut jung, dengan panjang 132 meter dan lebar 54 meter.  Luas geladak utama jung yang berbobot 2.700 metrik ton itu mencapai 4.600 meter persegi.  Cukup untuk menampung seluruh armada kapal Columbus plus Vasco da Gama.
Cheng Ho sendiri memiliki nama arab, yaitu Haji Mahmud Shams. Beliau lahir tahun 1371 dan wafat tahun 1433. Ceng Ho melakukan penjelajahan dan dakwah keliling dunia selama 28 tahun, dari tahun 1405 hingga 1433. Kebesaran Ceng Ho merupakan fakta sejarah, namun jika sejarah resmi dunia hari ini malah membesarkan nama Colombus dan Vasco Da Gama, maka itu merupakan suatu penggelapan yang dilakukan pihak-pihak yang tidak menyukai kegemilangan sejarah Islam.
Colombus, Pembantai Muslim Indian dan Penggunaan Senjata Biologi Pertama
Colombus merupakan salah seorang penerus cita-cita Knight Templar. Sejarahnya bisa dirunut dari kisah Grand Master Biarawan Sion, induk dari Knights of Templar, yang juga sering disebut sebagai Nautonnier atau The Navigator (Juru Mudi).
Istilah ini terus dipelihara oleh organisasi-organisasi pewaris Templar selama berabad abad setelah Knights of Templar dibasmi oleh King Philip le Bell dan Paus Clement V (1307-1314). Walau Grand Master Templar kala itu, Jacques de Mollay, dihukum mati dengan cara dibakar hidup-hidup, sesuatu yang lazim dimasa tersebut terhadap seseorang yang dituduh Gereja telah melakukan heresy (bidah), namun banyak pemerhati sejarah Eropa abad pertengahan yang meyakini bahwa tidak semua pemimpin atau Raja Eropa melakukan pembasmian Templar secara serius.
Walau tidak lagi mengenakan jubah Templar, kelompok ini masih terus bertahan di Eropa dan meluaskan pengaruhnya ke seluruh dunia hingga sekarang. Pada tahun 1418-1480, René d’Anjou (René dari Anjou, Rene Sang Budiman) menjadi Grand Master Italia. Bangsawan Yahudi Italia ini meneruskan kepemimpinan Grand Master sebelumnya, Nicholas Flamel, wafat di tahun 1418. Dalam tradisi ordo, sebelum seorang Grand Master meninggal maka dia harus menunjuk penggantinya.
Saat sakit keras, Flamel telah menunjuk René sebagai penggantinya. luar istana dan berpotensi menjadi sosok pahlawan. Ia adalah seorang lelaki yang hidupnya diperuntukan bagi masa mendatang, mengatisipasi pangeran-pangeran Italia di zaman pencerahan (Renaissance). Ia juga seorang yang rajin menulis, bukunya mencerahkan. Ia merangkai puisi dan alegori mistis… René juga mendalami tradisi esoteris, dan di istananya ada seorang ahli astrologi Yahudi, Kabalis, dan ahli fisika bernama Jean de Saint Rémy, kakek dari Nostradamus.” (Holy Blood Holy Grail, 1982).
Di masa kepemimpinan René inilah, pada tahun 1451, Cristoforo Colombo atau dalam lidah Inggris disebut sebagai Christopher Columbus dilahirkan dari pasangan Katolik bernama Dominico Colombo dan Suzanna Fontanarossa. Columbus lahir di Genoa, sebuah kota pelabuhan Italia yang cukup ramai.(Bersambung/Rizki Ridyasmara)
Source : http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/amerika-itu-negeri-muslim-yang-hilang-2.htm#.VmwQtdIrJpg
Read More

Amerika Itu Negeri Muslim Yang Hilang (1)

Leave a Comment
Suatu malam ditingkah rinai gerimis yang membasahi aspal jalan, saya melangkah masuk ke sebuah resto besar dan cukup terkenal di daerah elit Kemang, Jakarta Selatan. Ba’da Isya itu saya ada janji bertemu dengan dua sahabat yang sudah beberapa bulan tidak pernah bertemu muka, kecuali lewat media sosial saja. Yang pertama seorang Chef Selebritis yang lengannya dipenuhi tatto namun telah menyandang gelar haji dan sekarang tengah menekuni Islam dengan baik, bahkan sudah mengembalikan beberapa sahabatnya ke jalan Islam. Yang kedua seorang lelaki muda yang punya karir cemerlang sebagai direktur utama sebuah perusahaan nasional-pribumi dengan jumlah karyawannya mencapai 16.000 orang. Keislamannya pun cukup baik. Keduanya cucu dari tokoh-tokoh nasional Indonesia di masa keemasan di zaman Bung Karno.
Sambil menyantap makanan, kami ngobrol ngalor-ngidul sambil ditingkahi gurauan. Tiba-tiba Chef yang aktif dalam komunitas motor besar itu bertanya kepada saya,
“Riz, elo kapan naik haji?”
Deg! Saya terdiam. Saya hanya nyengir dan malah bertanya kepada sahabat dirut yang satu lagi,
“Nah, kalo Mas sudah pernah ke Mekkah belum?”
Sang Dirut muda yang wajahnya sekilah mirip penyanyi Dian Pramana Putera itu tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya,
“Belum.”
Chef bertubuh tinggi besar laiknya anak-anak motor besar itu berkata bijak, “Kalo ada kesempatan, pergilah ke Mekkah. Di sana dunia itu satu: Islam!”
Sambil bercanda saya berkata, “Saya ingin keliling Eropa dan Amerika dulu sebelum ke Mekkah, Chef…”
Dia malah tertawa, “Saya sudah keliling Amerika dan Eropa berkali-kali. Dan apa yang ada di sana? Di jalanan ramai di New York misalnya, itu dipenuhi orang-orang berbagai warna. Bule nyaris tidak kelihatan. Orang Islam yang banyak ada di sana sekarang ini. Demikian juga di kota-kota besar di Eropa. Islam itu dunia, Riz…”
Saya takjub mendengarnya. Chef itu meneruskan ceritanya tentang perjalanannya menyinggahi berbagai pelosok dunia. Juga peristiwa-peristiwa aneh di dalam kehidupannya. Wajar saja, karena sahabat saya yang satu ini dianugerahi Allah Swt kebisaan yang jarang sekali dimiliki manusia biasa. Dia mampu melihat “dunia lain”, bahkan mampu melakukan proyeksi astral.

Tak terasa jarum jam sudah nyaris menyentuh puncak malam. Karena besok bukan hari libur,
silaturahim ini saya sudahi. Kami pun berpisah dengan janji akan mengadakan pertemuan serupa tapi nanti di daerah Kuningan dimana Sang Dirut muda ini berkantor.
Dalam perjalanan pulang menembus gelapnya malam, saya terus memikirkan tentang Amerika, yang menurut pengamatan sahabat Chef saya tadi akan kembali menjadi negeri kaum Muslimin.
Ya, sebelum bernama Amerika (catatan: benua ini dinamakan “Amerika” oleh Colombus dengan mengambil nama temannya yang bernama Amerigo Vespucci), benua besar itu memang milik kaum Muslimin. Christopher Colombus pun mengakui hal itu dari catatan hariannya.
Colombus, Sang Pewaris Templar
Christopher Colombus sebenarnya bukan penemu daratan besar ini, pun bukan pula Laksamana Muslim Cheng Ho yang 70 tahun tiba lebih dulu di Amerika ketimbang Colombus. Lima abad sebelum Colombus tiba, para pelaut Islam dari Granada dan Afrika Barat, sudah menjejakkan kaki di daratan-benua yang masih perawan dan hanya ditinggali suku-suku asli yang tersebar di beberapa bagiannya.
Imigran Muslim pertama di daratan ini tiba sekira tahun 900 hingga setengah abad kemudian pada masa kekuasaan Dinasti Umayyah. Salah satunya bernama Khasykhasy Ibn Said Ibnu Aswad dari Cordoba. Orang-orang Islam inilah yang mendakwahkan Islam pertama kali pada suku-suku asli Amerika. Sejumlah suku Indian Amerika pun telah memeluk Islam saat itu. Suku-suku itu antara lain suku Iroquois dan Alqonquin.
Setelah jatuhnya Granada pada 1492, disusul Inquisition yang dilakukan Gereja terhadap kaum Muslim dan Yahudi di Spanyol, maka imigran gelombang kedua tiba di Amerika pada pertengahan abad ke-16 Masehi. Raja Spanyol, Carlos V, di tahun 1539 sempat mengeluarkan larangan bagi Muslim Spanyol untuk hijrah ke Amerika.
Bahkan, menurut prasasti berbahasa Arab yang ditemukan di Mississipi Valey dan Arizona, dikatakan jika orang-orang Islam yang datang ke daratan ini juga membawa gajah dari Afrika!
Colombus sendiri baru datang ke “Amerika” di akhir abad ke-15 Masehi ketika benua itu sudah didiami Muslimin Indian. Dalam ekspedisi pertamanya, Colombus dibantu dua nakhoda Muslim bersaudara: Martin Alonzo Pizon yang memimpin kapal Pinta dan Vicente Yanez Pizon yang ada di kapal Nina. Keduanya kerabat Sultan Maroko dari Dinasti Marinid, Abuzayan Muhammad III (1362-1366).
Bahkan, Colombus sendiri, di dalam catatan perjalanannya, menulis bahwa pada hari Senin, 21 Oktober 1492, ketika berlayar di dekat Gibara di tenggara pantai Kuba, dia mengaku melihat sebuah masjid dengan menaranya yang tinggi yang berdiri di atas puncak bukit yang indah.
Doktor Barry Fell dari Oxford University juga menemukan jika berabad sebelum Colombus tiba di Amerika, sekolah-sekolah Islam sudah tersebar di banyak wilayah, antara lain di Valley of Fire, Allan Springs, Logomarsino, Keyhole, Canyon, Washoe, Mesa Verde di Colorado, Hickison Summit Pass di Nevada, Mimbres Valley di Mexico, dan Tipper Canoe-Indiana.
Hal ini dikuatkan dengan temuan nama-nama Islam di berbagai kota besar di Amerika Serikat. Di tengah kota Los Angeles terdapat daerah bernama Alhambra, juga nama Teluk El-Morro dan Alamitos. Juga nama-nama seperi Andalusia, Aladdin, Alla, Albani, Alameda, Almansor, Almar, Amber, Azure, dan La Habra.
Di tengah Amerika, dari selatan hingga Illinois, terdapat nama-nama kota kecil seperti Albany, Atalla, Andalusia, Tullahoma, dan Lebanon. Di negara bagian Washington juga ada nama daerah Salem. Di Karibia, kata yang juga berasal dari kata Arab, terdapat nama Jamaika dan Kuba, yang berasal dari bahasa Arab “Quba”. Ibukota Kuba, Havana juga berasal dari bahasa Arab “La Habana”.
Seorang sejarawan bernama Dr. Yousef Mroueh menghitung, di Amerika Utara ada sekurangnya 565 nama Islam pada nama kota, sungai, gunung, danau, dan desa. Di Amerika Serikat sendiri ada 484 dan di Kanada ada 81.
Dua kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinah, nama keduanya juga telah ditorehkan para pionir Muslim di tanah Amerika jauh sebelum Colombus lahir. Nama Mecca ada di Indiana, lalu Medina ada di Idaho, New York, North Dakota, Ohio, Tenesse, Texas, Ontario-Canada. Bahkan, di Illinois, ada kota kecil bernama Mahomet yang berasal dari nama Muhammad.
Suku-suku asli Amerika pun, kaum Muslim Indian, banyak yang nama sukunya berasal dari nama Arab, seperti: Apache, Anasazi, Arawak, Cherokee, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mohican, Mohawk, Nazca, Zulu dan Zuni. Bahkan, kepala suku Indian Cherokee yang terkenal, Se-quo-yah, yang menciptakan silabel huruf Indian yang disebut Cherokee Syllabari pada 1821 adalah seorang Muslim yang senantiasa mengenakan sorban, bukan ikat kepala dari bulu burung. [Bersambung/Rizki Ridyasmara]

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/amerika-itu-negeri-muslim-yang-hilang-1.htm#.VmwP59IrJpg
Read More

Islam and Muslims in America before Columbus

Leave a Comment

Issue 58 / April - June 2007

Salih Yucel

Historical facts concerning many established information on diverse fields continue to be unraveled to the astonishment of us all. One of these facts, previously little-known by many, is that Muslims had actually set foot on American soil centuries before Columbus’ illustrious expedition. We hope as you read ahead in this essay that some information and documents, excerpts from various sources, and the results of archeological excavations will demonstrate the truth of the aforementioned proposition.

Did the Companions of the Prophet go to America?
Research conducted in the West during the twentieth century has proven the existence of Muslims on the American mainland approximately seven centuries before Christopher Columbus. Similarly, archeological excavations, linguistic, and philological analyses of languages and settlement names in the region, the fact that coins, household tools and other utensils were discovered there that were similar to those of the Abbasids in the eighth and ninth centuries are all justifications of the theory that Muslims, beginning from 650 CE, made their way to the continent for settlement, during which time they erected mosques and schools, leaving a prolonged impact on the natives, i.e. American Indians.
The Islamic sources carry no information as regards Muslim settlement in America, although research undertaken by Professor Barry Fell of Harvard University confirms that Muslims reached the continent at the time of Uthman, the third Caliph, concomitantly indicating the significant possibility that some of the Companions could have arrived there as well.
Many Western researchers acknowledge the famous map of Piri Reis as proof of Muslim presence in America long before the endeavors of Columbus, as it minutely comprises the map of America, as well as extremely accurate measurements of the distance between America and Africa.
According to Salvatore Michael Trento, former director of the Center for Archeological Research in Middletown, New York, before embarking on his first voyage to America, Columbus had read the book of Roger Bacon of Oxford University, which comprised information, compiled from a variety of Arabic resources, about geographical regions on the other side of the Atlantic; hence Columbus’ previous knowledge of the islands in the Atlantic Ocean and other places.1

Proofs in Western sources
1. Professor Barry Fell, retired lecturer from Harvard University and also a member of the American Academy of Science and Arts, the Royal Society, the Epigraphy Society and the Society of Scientific and Archeological Discoveries, is adamant about the arrival of Islam in America in the 650s,2 predicating this argument upon the Cufic calligraphy belonging to that era found in various diggings across America. If the words of Professor Fell have truth-value, then the Muslims had arrived in America during the era of Uthman, or at least that of Ali, the fourth caliph. Such information, however, is not found in Muslim sources.
Professor Fell again uses the results of various archeological diggings undertaken across many regions in the states of Colorado, New Mexico, and Indiana to assert the construction of Muslim schools during 700-800 CE. Writings, drawings, and charts inscribed on rocks discovered in the most remote and untainted terrains of Western America are relics bestowed by the elementary and intermediate systems of Muslim education at the time. These documents were written in the old Cufic letters of North African Arabic, covering subjects such as reading, writing, arithmetic, religion, history, geography, mathematics, astronomy, and navigation. The descendants of these settlers are thought to be the current native tribes of Iroquois, Algonquin, Anasazi, Hohokam, and Olmec.
2. The second evidence offered by Professor Fell is that the inscription of “In the Name of God” (picture 1), found on a rock during archeological work in Nevada, belongs to the seventh century, when the haraka sign system had not yet been developed. Likewise, the stone bearing the inscription “Muhammad is the Prophet of God” (picture 2) is pertinent to the same era. As seen by comparison of the two pictures, the inscriptions are not in the style of Modern Arabic; conversely they are in a Cufic style relevant to the seventh century.3

The Arabs, according to the findings of Professor Fell, settled in Nevada during the seventh and eighth centuries. The earlier existence of a school, which taught Islam and science, particularly navigation, has come to light following the archeological investigation undertaken by Professors Heizer and Baumhoff of California University around site WA 25 in Nevada. The excavations in Nevada have uncovered writings in Naskhi Arabic and Cufic style that are inscribed on rocks which carry information about this school (picture 3). The application of the mathematical formula “five diamonds equal an alif” (alif is the first letter of Arabic alphabet) may be seen in this picture (pictures 3b and 3c). The Arabic letters in pictures 3b and 3c, found amid excavations in Nevada, are in exactly the same style as North African Arabic. Again similarly, another rock was found in Nevada bearing the name “God”, the style of which is yet again reminiscent of the prevalent technique of seventh and eighth-century North Africa. The calligraphical similarities between various writing styles of the Prophet’s name over diverse periods, particularly those relating to Africa and America, found during archeological investigations are striking indeed. Figure A of picture 4 was found in al-Ain Lahag, Morocco and figure B in East Walker River; both are currently at the University of California. Figure C was discovered in Nevada and figures C and D were located in Churchill County and are also currently preserved at the University of California; likewise figure F was discovered in al-Haji Minoun, Morocco, while figure G, inscribed on ceramic, was revealed in al-Suk, Tripoli, Libya and figure H, at the University of California, was discovered at Cottonwood Canyon, while finally figure I was located on the border of Morocco and Libya. All these inscriptions belong to the eighth and ninth centuries, clearly illustrating the resemblance in style between North America and North Africa, as well as overtly suggesting a migration that occurred from Africa to America.
3. In the twelfth century the Athapcan Tribe, comprised of native Apaches and Navajos, raided the area inhabited by the Arabs, who either ended up fleeing or were exiled toward the South. These illiterate natives were spellbound by the schools founded by the Arabs, and, perhaps with the assistance of captives, attempted to imitate the same subjects, transforming the geometrical shapes into mythical beasts, which carried on for centuries.
4. Picture 5 is the Cufic writing found in 1951 in the White Mountains, close to the town of Benton on the border of Nevada. The words Shaytan maha mayan, i.e. the Devil is the source of all lies, have been written in a Cufic style peculiar to the seventh century.
5. Once more, a rock inscription belonging to post-650 CE, bearing the Cufic letters H-M-I-D of the word Hamid (picture 6), is another Arabic script discovered on the Atlata rocks in the Valley of Fire in Nevada.
6. While traveling from Malden to Cambridge in the state of Massachusetts in 1787 (on what is now RT. 16), the Reverend Thaddeus Mason Harris noticed some coins discovered by workers during road construction. The workers, not putting much value on these coins, presented him with a handful. Consequently, Harris decided to send these coins to the library of Harvard College for examination (picture 7). The study yielded that these were in fact Samarqand dirhams from the eighth and ninth centuries. As can be seen in the picture, the coins manifestly display the inscriptions La ilaha ill-Allah Muhammadun Rasulullah (There is no deity but God, and Muhammad is His Messenger) and Bismillah (in the name of God).
7. Picture 8 shows a piece of rock discovered in a cave in the region of Corinto in El Salvador, bearing the inscription Malaka Haji mi Malaya; this has been identified as belonging to the thirteenth century, suggesting a possible arrival of Muslims in South America, perhaps coming from somewhere near Indonesia.
7. During his second voyage, Columbus was told by the natives of Espanola (Haiti) of black men who had appeared on the island before him and they showed him the lances that had been left there by these Africans to support their assertions. The tips of the lances were of a metal, an alloy of gold, which they called guanin, a word which is semantically remarkably similar to the Arabic word ghina, meaning richness. Columbus had in fact brought some of this guanin back to Spain, recording that it was composed of 56.25% gold, 18.75% silver and 25% copper, ratios that were prevalent in African Guinea as standards for the processing of metals.
8. On his third voyage to the New World, Columbus visited Trinidad, where the sailors noticed the symmetrically patterned cotton and colorful handkerchiefs of the natives. Afterward, Columbus realized that the handkerchiefs, which the natives called almayzar, were all much the same in color, style, and use as the headscarves and waist bands used in Guinea. The word almayzar is Arabic, and denotes a cover, tie, apron, or skirt, and is a component of the regional costumes of the Moors, Arabs and, Berbers of North Africa, who had conquered Spain in the eighth century. Columbus observed that the local women wore cotton garments and wrote in astonishment that they had learned of the concept namus, i.e. chastity. In much the same vein, Hernan Cortes, another Spanish explorer, later recorded that the clothing of local women consisted of long veils and skirts decorated with ornaments that were similar to those of the Moors. Ferdinand, Columbus’ son, was also quick to notice the resemblance between the cotton dresses of the natives and the ornamented shawls fashioned by Moorish women in Granada. The cradles used by the natives, furthermore, very closely resembled those of North Africa.
9. Columbus recorded on 21 October 1492 that he had noticed a mosque on top of a mountain while sailing around Cibara on the northeast coast of Cuba. Relics of mosques carrying Qur’anic inscriptions on their minarets have been found in Cuba, Mexico, Texas, and Nevada since these times.
10. Leo Weiner, a well-known Harvard historian and linguist, stated in his book The Discovery of Africa and America, written in 1920, that Columbus was aware of the existence of Mandinka, an ethnic group of West Africa, in the New World. The same book also affirms that Columbus was aware that West African Muslims were living across North America, including the south, middle regions and Canada, as well as in the Caribbean, and that they had marital and commercial ties with the native tribes of Iroque and Algonquin.
11. A preponderance of the voyages embarked upon by Columbus and other Spanish and Portuguese explorers toward the other side of the Atlantic were undertaken only in the light of the geographical and navigational knowledge prepared by Muslims. Al-Masudi’s (871-957 CE) work Muruj’uz-Zahab, for instance, was written with this sort of data compiled by Muslim traders from across Africa and Asia. Two of Columbus’ captains on the first voyage, in actual fact, were Muslims: Martin Alonso Pinzon was in charge of the Pinta, while his brother Vicente Yanez Pinzon was the designated captain of Nina; both were from the Moroccan Marinid dynasty, descendants of Sultan Abu Zayan Muhammad III (r. 1362-1366). Formerly well-to-do ship riggers, they assisted Columbus in organizing his voyage of exploration, preparing the Santa Maria, the flagship, and covering all its expenses.
12. Christopher Columbus has recorded the custom of nose piercing, which used to be and still popular in the Middle Eastern and Arab countries, as being prevalent in some islands across the Atlantic also mentions the writing of letters in Arabic.
13. In the account of sixteenth century missionaries in America, the local copper mines, found particularly in Virginia, Tennessee, and Wisconsin were not operated by the natives, but instead by people from the Middle East, towards whom the natives nurtured a profound sympathy.
14. A sum of 565 names, 484 in America and 81 in Canada, of villages, towns, cities, mountains, lakes, rivers and etcetera, are etymologically Arabic, designated by locals long before the arrival of Columbus. Many of these names are in fact the same as names of Islamic places; Mecca in Indiana, Medina in Idaho, Medina in New York, Medina and Hazen in North Dakota, Medina in Ohio, Medina in Tennessee, Medina in Texas, Medina and Arva in Ontario, Mahomet in Illinois and Mona in Utah, are just a few noticeable names at the outset. A closer analysis of the names of native tribes will immediately reveal their Arabic etymological ancestry; Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin, Cherokee, Cree, Hohokam, Hupa, Hopi, Makkah, Mohician, Mohawk, Nazca, Zulu, and Zuni are only a few.

House and building Structures 
Archeological excavations conducted throughout North America and North Africa reveal a corresponding architectural resemblance between ninth century buildings. The structure of a Berber house of the Atlas Mountains, Morocco (picture 9), for instance, is exactly the same as that of a house in New Mexico (picture 10). The same similarity can be traced between the Castle of Montezuma discovered in Arizona and the remnants found in Mesa Verde in Colorado and the general structure of Berber buildings (picture 11-12).

The research undertaken by Professor Cyrus Thomas of the Smithsonian Institute shows that a small cabin built from piles of rock found in Ellenville, New York is virtually the same as the cabin, again of rock, found around Aqabah, Southern Arabia, both of which are thought to have been built around the start of the eighth century (picture 13).
Arabic words prevalent among natives prior to the arrival of Eu ropeans
The pervasiveness of many Islamic words across the continent prior to European influx is verified by the following terms discovered in the regions currently known as New England and Nova Scotia, in America and Canada respectively. Fell pointed to some words as example of Arabic influence on Native Americans. All of the words listed below are derived from the Arabic language. However, time had eroded their original meanings and most are not used in Arabic today.
The last Muslim stronghold in Spain, Granada, fell just before the Spanish Inquisition was established in 1492. Non-Christians were forced to either convert to Catholicism to save themselves from the tyranny of the Inquisition or were exiled from the country. Documents exist which prove the existence of immigrant Muslims in Spanish America before 1550. In 1539 an edict from Spanish King Charles V was put into practice which forbade the immigration of Muslims to settlements in the West. This edict was later expanded to expel all Muslims from overseas Spanish colonies in 1543. The existence of Muslims in overseas islands and regions was known along with the fact that the Spanish king issued such an edict. Again, in many Islamic sources, it is noted that Muslims living in Spain and North Africa made overseas voyages during the Andalusia period. Scientific research on this subject will bring out many documents into the daylight, documents which have escaped the notice of both Muslims in America and those throughout the world, which will perhaps serve, in the future if not immediately, as a starting point for a re-evaluation of the history of America.

Notes
1. Trento, Salvatore Michael. The Search for Lost America, p.15 Penguin Books, New York: 1978.
2. Fell, Dr. Barry. Saga America, p. 190, Time Books, New York: 1980.
3. ibid. p. xiv.
4. ibid. pp. 332-333.
5. ibid. pp. 333-334.
6 ibid. p. 182.
7. ibid. p. 243.
8. ibid. p. 26.
6. ibid. p. 276.
7. Teacher, John Boyd. Christopher Columbus, p. 380, New York: 1950.
8. Columbus, Ferdinand. The Life of Admiral Christopher Columbus, p. 232 Rutgers Uni. Press, 1959.
9. Obregon, Mauricio. The Columbus Papers, The Barcelona Letter of 1493.
10. The Landfall Controversy, and the Indian Guides, McMillan Co., New York: 1991.
11. Weiner, Dr. Leo. Africa and the Discovery of America, Vol.2 p. 365-366 Philadelphia: 1920.
12. Obregon, 1493.
13. Trento, 1978, p. 23.
14. ibid. p. 29.
15. ibid. p. 65.
16. Fell, 1980. 250-252.
17. Trento, 1978, p. 15.
18. Fell, 1980. p. 400-403.
Source : http://www.fountainmagazine.com/Issue/detail/Islam-and-Muslims-in-America-before-Columbus


Read More

Treason at Long Beach, Draft 6

Leave a Comment
Treason  is occurring at Long Beach California.  This is treason not in the legal sense , where it takes two witnesses during a war, but in the old  fashion sense "of doing real harm to our country."  It runs from the White House thru the US Department of Commerce, thru the United States Navy and the  US Housing Authority to the City Government of Long Beach California. This act of treason is the result of our present system of campaign financing. What ever the public reasons that these government bodies give for leasing the former Long Beach Navel Base to the Chinese Communist Government, the net effect will be to create a malignant cancer that will pour deadly poisons into our country. The facts are all on the internet. Long Beach is just the tip of an iceberg.  Chinese Communist influence and accomplishments are spread throughout our country.  This is Treason!


Fact 14. The Chinese Communist Connection with the Riady Lippo Group:
The Worthen Bank of Little Rock (now Boatmans Bank of Little Rock) was purchased in 1984 by Mochtar Riady, the head of an Indonesian Corporation called the Lippo Group.   Riady then gained control of the Hong Kong Chinese Bank (HKCB).  In mid Nov 1992, the China Resources Holding Company (a company owned and controlled by the Chinese Communist Peoples Liberation Army) which had held 15% of the HKCB, bought 35% more of HKCB stock.  It is alleged that the China Resources Holding Company  is a front for Chinese Communist Military Intelligence.  This was reported in the US Veteran Dispatch and The London Sunday Times. In 1992, the Worthen Bank made a loan of $3 million plus to Clinton's cash strapped campaign. (I haven't been able to find out wheither this loan was ever repayed.) The Lippo Group has many "business" partnerships with Communist China and does billions of dollars each year with China and Viet Nam. The homepage of the Lippo Group lists the Bankers Trust Company (USA) and Stephens Inc (USA) along with several Japanese Banks as joint venture partners.
Riady's main bank in the United States is the Bank Central Asia where he does business in New York and Los Angeles.  Lippo bought Southern California's Bank of Trade and renamed it the Lippobank. The Hong Kong Chinese Bank of PLA fame was into partnership with First Union Bank of North Carolina. (Note: Disney Productions recently learned that you do business with China "China's Way" or you don't do business with China.
To their credit, Disney canceled the proposed Theme Park in China and went ahead with its film on Tibet.)

Fact 15.  What the Lippo Group Got for Itself and Indonesia.  Moctar Riady is one of the principle financial advisors to the Suharto family which controls Indonesia. Clinton appointed Maria Luisa Haley as President of the taxpayer financed Import-Export Bank.  Haley is the ex-wife of John Haley co-defendent of former Arkansas Governor Jim Guy Tucker in a case involving a cable TV franchaise in Jakarta, Indonesia.  Jim Giroir, former head of Rose Law firm, is reputed to have set this deal set up.
James Riady (Moctar's son) has received a $900 million letter of credit from the Import-Export Bank for a Lippo project.  It is unclear wheither this is for the Chinese Power Plant or there is another billion dollar project in the works that James is discussing with the Import-Export Bank.(Power plant in Northern China by Lippo.)  The named construction firm is Entergy Group out of Little Rock.
Giroir still represents Lippo and has brokered ventures between Tyson Foods to improve the sale of Tyson Chickens in the far east.  The Clinton Administration is providing $21million to build a huge airport Northwest Arkansas Regional Airport in unpopulated Northern Arkansas for Tyson/Lippo to ship chickens and Walmart to import Communist Chinese Goods.  Tyson Foods and Walmart have been  big contributers to the DNC and Clinton.
Indonesia invaded and conquered East Timor, an independent island nation with  a democratic government that was never a part of Indonesia.  Over 200,000 people were killed.  In February of 1994, US Trade Representative Mickey Kantor suspended a review of Indonesian human rights violations in East Timor.  This allowed Indonesia to keep its trade privileges with the US ~ $ 600 million a year. Clinton has also approved sales of F-16 fighters to Indonesia.

Fact 16.. The Lippo Group and Campaign Contributions: People associated with the Riady Lippo Group  poured money like water into the Clinton Campaign.  (A $250,000 "retainer" from Lippo was given to Web Hubbell after he resigned his position as US Assistant Attorney General.)  The DNC has announced it will return over $3 million in questionable contributions - most of it associated with the Lippo Group.  That is, of course, when it raises the money to do it.  John Huang has been one of the principle money funnels for the Lippo Group.

Fact 17.  John Huang: The center of interest in this campaign finance/spy scandal is John Huang. Huang was born in mainland China. In 1984, John Huang was an employee of the Hong Kong Chinese Bank and later did a stint at the Worthen Bank of Little Rock. He once headed the "Lippo Group, West Coast" headquarters.  He is another "long time friend" of Bill and Hilary Clinton and has provided major financial support for Clinton in both presidential campaigns. Huang was appointed Deputy Assistant Secretary for Trade in July 1994 during Ron Brown's tenure.  He was "exempted" from a FBI security investigation (required by law for all foreign born nationals in that position) and granted a "Top Secret Security Clearance" without  an investigation.. He was allowed to keep that  "Top Secret Security Clearance" for a year after he left the commerce dept. ???  Phone records show he was in constant contact with the Riady Lippo Group during his  time at the commerce dept office.  Records also show that he was a frequent visitor to the White House where he was a key advisor to Clinton on matters related to Indonesia and influenced Clinton on matters relating to China and Viet Nam.  Huang worked closely with a man called Ira Magaziner who has been cited as the principle architect of Clinton's ProChina Policy. (The American Spectator Online) Huang is alleged to be under intense investigation by the FBI and has taken the Fifth.   CNN/All Politics

Fact 18.  John Huang's California Political Contributions: Garry South, Chief of Staff for California's Lt. Governor Gray Davis is reported to have said "I doubt that you'll find a major Democratic figure in California who doesn't have a contribution from John Huang."In 1988, Huang gave Gray Davis $5000 and Lippo Bank owner Jame Riady (son of Moctar) spent $5,099 hosting a Davis fund raiser.  Elected California officials who are known to have received money from Huang are: Senator Diane Finestein $4,000, Lt. Governor Gray Davis $16,750, Kathleen Brown $18,500, David Roberti 13,300, former Sectretary of State March Fong Eu $4000, former Lt. Governor Leo McCarthy. $4,000, State Treasurer Matt Fong $10,000 and the Democratic Party State Central Committee $10,000.

Source : http://www.supremelaw.org/sls/email/box087/msg08712.htm
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.